Translate Page To

Senin, 29 April 2013

Antara Manfaat & Mudharat

Antara Manfaat & Mudharat

Beberapa tokoh orientaalis diakui cukup berjasa dalam menggali buku-buku warisan islam dan disebarkannya setelah ditahqiq dan disistematiskan. Namun demikian mengkritisi karya-karya mereka adalah sebuah keharusan.

           Orientalisme, dalam kamus Bahasa Indonesia adalah ilmu pengetahuan tentang ketimuran atau tentang budaya ketimuran. Dr. Hasan Abdurra'uf dalam bukunya yang berjudul Buhuts fi at-Tabsyir wa al-Istisyraq (Pembahasan tentang Missionarisme dan Orientalisme) menyebutkan, kata orientalisme secara umum diberikan kepada orang-orang non-Arab yang mempelajari ilmu-ilmu tentang ketimuran, baik itu dari segi bahasa, agama, sejarah, maupun adat istiadatnya. Orang yang mempelajari ilmu itu disebut orientalis (musytasriq).
         Namun, karena berbagai studi mencakup peradaban, agama, seni, sastra, bahasa dan kebudayaan Islam yang digali oleh mereka kemudian juga digunakan untuk melakukan perang pemikiran pemikiran dengan kaum muslimin, munculah konotasi yang negatif pada kata ini. Yakni, orientalisme dimaknai sebagai senjata budaya orang barat dalam perang pemikiran dengan dunia barat.
        Gelombang pemikiran ini telah memberikan andil besar dalam membentuk persepsi Barat terhadap Islam dan dunia Islam, untuk selanjutnya mereka kuasai dengan langkah-langkah politik dan kebudayaan. Mereka menggali dan mengungkap kemunduran pola pikir dunia Islam era klasik dalam rangka pertarungan peradaban antara Timur dan Barat.
Sejarah awal tumbuhnya orientalisme sulit dipastikan. Sebagian sejarawan cenderung berbendapat bahwa orientalisme bermula dari zaman Daulah Islamiyah di Andalusia. Sebagian lain mengatakan bermula ketika terjadi perang salib.
          Khusus tentang kajian ketuhanan bangsa timur sudah tampak secara resmi sejak dikeluarkannya keputusan Konsili Gereja Viena tahun 1312 M dengan memasukkan materi bahasa Arab ke berbagai Universitas di Eropa.
Orientalisme muncul di Eropa pada penghujung abad ke-18 M. Pertama kali muncul di Inggris tahun 1779 M, lalu di Prancis tahun 1799 M dan dimasukkan ke dalam Kamus Akademi Prancis pada tahun 1838 M.

TOKOH ORIENTALISME
          Teramat banyak tokoh orientalis. Beberapa di antaranya, berikut ini, boleh dikatakan sebagai pionir dalam kajian dunia Timur.

         Adalah Gerbert d'Oralliac, seorang pendeta Venezia, yang mula-mula belajar dunia timur kepada seorang ilmuwan kristen Andalusia. Setelah kembali dari sana, berkat pengetahuannya, ia terpilih sebagai pendeta agung dengan gelar Paus Silvester II, paus pertama dari Prancis.
Tahun 1130 M seorang kepala uskup Toledo menerjemahkan beberapa buku ilmiah Arab di Andalusia. Kemudian jejak ini diikti oleh Genard de Cremona dari Italia. Ia pergi ke Toledo dan menerjemahkan tidak kurang dari 87 judul di bidang filsafat, kedokteran, astronomi, dan geologi. Di Prancis, muncul Pierre le Venerable, seorang pendeta Venezia dan kepala biarawan Cluny, membentuk kelompok penerjemah untuk mendapatkan pengetahuan orisinal tentang Islam. Ia sendiri adalah orang pertama yang menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa latin. Adapun penerjemahan dalam bahasa Inggris dilakukan pertama kali oleh Robert of Ketton.
           Juan de Sevilla, Yahudi yang masuk Kristen, mucul pada abad ke-12 dan menaruh perhatian pada bidang astronomi. Ia telah menyadur 4 karya yang berbahasa Arab karya Abu Ma'syar Al-Falaki yang penerjemahannya dibantu oleh Adelard. Ada juga Roger Bacon dari Inggris menuntut ilmu di Oxford dan Paris dan meraih gelar doktor di bidang theologi. Ia menerjemahkan buku berbahasa Arab Mi'rat al-Kimya tahun 1251 M.
Anehnya, sebagian kalangan gereja tidak sepenuhnya simpatik dengan kaum orientalis. Hadrian Roland, profesor bahasa-bahasa Timur pada Universitas Utrecht Belanda, yang menulis buku Muhammadism dalam bahasa Latin, karyanya dianggap terlarang oleh gereja-gereja Eropa. Bahkan Johann J. Reiske, seorang orientalis Jerman, dianggap zindiq karena sikapnya yang positif terhadap Islam.
          Sebaliknya, ada juga yang dielu-elukan pihak gereja. Seperti Goldzifer, orientalis berdarah Yahudi dan penulis buku Sejarah Aliran-Aliran Tafsir dan Mu'jam Mufahras Hadist, S.M. Zwemer, orientalis dan zending kristen pendiri majalah Al-Islam, yang merupakan kumpulan makalah yang disampaikan pada muktamar Kristenisasi II tahun 1911 M di Lucknow, India. Yang karyanya sangat diperhitungkan oleh kaum gereja dan Barat.
Di era belakangan, ada Silvestre de Sacy, seorang orientalis yang menekuni sastra dan nahwu yang berjasa mendirikan pusat pengkajian Islam di Paris, yang pernah berhubungan dengan Rifa'at Ath-Thahthawi, pemikir muslim Mesir. Di samping itu, juga ada Thomas W. Arnold, penulis buku laris berjudul The Preaching of Islam, Gustave le Bon, orientalis yang atheis, yang tidak dihargai orang Barat sendiri. Kemudian Z. Honke, Anne Marie Schimmel, Thomas Carlyle, Renier Ginaut, Dr. Granier, dan Goethe, yang tergolong moderat.
          Di antara tokoh yang mmenebar kebencian kepada islam ialah A.J. Wensinck, penulis buku Akidah Islam yang terbit pada tahun 1932. K.Cragg, orientalis Amerika, penulis buku Dakwah dan Menara Adzan yang terbit pada tahun 1956. M, Louis Massignon, D.B. Mac Donald, D.S. Margoliouth, A.J. Arberry.
         Mulanya perhatian kaum orientalis tertuju pada studi peradaban bangsa Arab dan tradisi Islam. Namun belakangan, mereka mengusik doktrin-doktrin islam yang baku seperti tauhid, fiqh dan lain-lain. Mereka diantaranya ialah R.A. Nicholson, orientalis Inggris yang menolak kespiritualan Islam, menganggap bahwa Islam adalah agama materialistis yang tidak mengakui keluhuran manusia. Bukunya yang terkenal adalah Shufi-Shufi Islam (1910) dan Sejarah Kesusastraan Arab (1930).
         Begitu dengan J. Schacht, penulis buku Ushul Fiqh Islam dan Alfred Guillaume, orientalis Inggris yang sangat fanatik memusuhi Islam dengan karyanya yang berjudul Al-Islam.

BERBAGAI MOTIVASI

        Berdasarkan keragaman latar belakang kaum orientalis, dapat dipetakan tujuan dan motif orientalisme.
Pertama, dan paling utama, adalah motivasi agama. Sasaran-sasaran mereka adalah menumbuhkan keragu-raguan terhadap keyakinan umat atas kerasulan Nabi Muhammad SAW, dan membuat anggapan bahwa hadist Nabi adalah sebagai perbuatan umat Islam pada kurun waktu abad pertama Islam. Selain itu mereka juga berupaya menumbuhkan keraguan terhadap kebenaran Al-Qur'an dan memutarbalikkannya, membuat anggapan bahwa fiqh sebagai adopsi hukum dari hukum Romawi, memojokkan bahasa Arab dan bangsa Arab, serta menjauhkannya dari ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, menampilkan Islam sebagai sumber Yahudi dan Nasrani dan ujung-ujungnya mengkristenkan umat Islam dengan pemahaman liberalisme dan inklusivisme agama.
         Motivasi yang kedua ialah ekonomi dan penjajahan. Pemerintahan bangsa Eropa banyak mendanai kegiatan para orientalis dengan biaya yang sangan besar, demi mengenal lebih jauh tentang keadaan negara-negara Islam melalui laporan lengkap kaum orientalis, sebelum mereka menggarapnya. Penelitian ini sangat digalakkan, terutama pada sebelum penjajahan Barat pada kurun waktu abad ke-19 dan 20 M. Satu contoh, kolonialis Belanda membentuk baan Kantoor vor Inlandsche Zaken yang pernah diketuai Hurgronje untuk keperluan Hindia Belanda.
          Ketiga, motivasi politik agama. Yakni melemahkan semangat Ukhuwah Islamiyah dan memecah belah umat, membenturkan kaum adat dengan agama, agar mudah dikuasai.
Keempat, motivasi keilmuwan. Sebagian kaum orientalis ada yang mengarahkan penelitian dan analisisnya semata-mata untuk eksplorasi pengetahuan. Ada diantara mereka yang mengkaji sampai kepada esensi Islam dan bahkan masuk Islam, seperti Martin Lings dan Murad W. Hoffman.
MENJADI IRONI

        Bagaimanapun, eksistensi kaum orientalis patut diacungi jempol dalam hal kesungguhan mereka menggali sumber-sumber keislaman.
Geschichte der Arabischen Litteratur, karya Carl Brockelmann, misalnya, merupakan ensiklopedia lengkap pertama karya asing, yang banyak merujuk pada kitab-kitab primer, seperti Thabaqat Ibn Sa'ad, Tarikh Al-Alusi, Ibn Hisyam.
         Begitu juga kitab berjudul Mu'jam Mufahras li Alfazh Al-Hadist, kamus untuk mencari nash Hadist. Mu'jam ini mencakup Kutub as-Sittah plus Musnad Ad-Darimi, Al-Muwattha' Imam Malik, terdiri atas tujuh jilid dan beredar sejak tahun 1936 M sampai sekarang.
Beberapa tokoh orientalis diakui cukup berjasa dalam menggali buku-buku warisn Islam dan disebarkannya setelah ditaqiq dan disistematiskan. Beberapa kalangan diantara mereka memilih metodologi ilmiah dan ketelitian dalam mentahqiq, menyaring dan menelusuri persolalan. Namun, bukan berarti langkah-langkah mereka dapat diterima secara bulat.          Mengkritisi adalah sebuah keharusan bagi pelajar muslim saat menelaah karya-karya mereka. Belum lagi, mereka sekedar menghiasi khazanah pustaka keislaman sepanjang masa. Kecuali tentu saja orientalis yang kemudian masuk islam.
         Ironisnya, gaung orientalisme(dalam konotasi negatif) di negrinya sendiri semakin hari semakin tak terdengar. Sebaliknya, kini jumlah orang Barat yang memeluk Islam semakin meningkat. Di Prancis, pemeluk agama Islam semakin meningkat. Begitu pula dengan Inggris dan Belanda, yang selama ini menjadi pusat studi keislaman yang dibangun demi kepentingan orientalis.
         Orang yang berpikiran rasional, yang merupakan ciri yang amat kuat bagi orang orang Barat, akan meneliti lebih jauh tulisan yang bersifat tidak rasional. Dari sinilah orang Barat, terutama para intelektualnya, banyak yang mengkaji Islam. Dan akhirnya, melihat betapa tingginya nilai yang terkandung di dalam Al-Qur'an.
        Bagaimanapun, mengingat bahwa orientalisme juga digunakan sebagai senjata budaya dalam perang pemikiran dengan kaum muslimin, seorang pelajar muslim hendaknya kritis dalam menelaah karya-karya mereka da berhati-hati. Para pelajar yang masih pemula dalam memahami Islam diharapkan tidak membaca buku-buku karya mereka.

Sumber : Majalah Hidayah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar